Pages

Sunday, December 14, 2014

Putih Merah

Satu, dua, tiga ....
berapa tahun aku melewati hidup bersama mu? Aku mulai bias.
Kenangan tentang mu terlalu banyak.
Aku mempertanyakan apakah ini nyata atau sebuah imaji belaka yang ingin kupertahankan agar aku tak merasa sendiri?

Aku tak tahu.

Perlahan semua kenangan tentangmu mulai terhapus. Ingin kuraih lagi semua kenangan itu. Menatanya dalam barisan ingatan terdepan agar kau menjadi yang pertama saat aku terbangun atau menjadi yang terakhir saat mata terpejam. Ada rasa berontak yang berkata untuk tidak menghapus semua itu.

Lalu aku pun mencarinya kembali. Berusaha mencari dirimu yang paling jelas dalam benakku. Tapi semakin kucari semakin kabur bayanganmu dan aku semakin merasa sendiri. Bayanganmu adalah semangat hidupku yang mampu mendorongku dari kegelapan sekalipun. Anehnya semua itu terasa tak nyata.

Bayanganmu kini hanya menjelma dalam sebuah foto. Satu-satunya foto dirimu yang kupunya. Foto ketika rasa itu belum tumbuh. Foto ketika antara kau dan aku tak berjarak. Kau dalam balutan putih merah. Tapi kau tahu, walaupun semua tentangmu mulai bias. Hanya foto itu yang terasa nyata. Bahwa kau pernah hadir dalam hidupku.

Putih merah yang kau pakai dan keluguan kita saat itu. Itulah satu-satunya yang nyata. Kenangan tak terbatas tentangmu ada pada putih merah yang kau kenakan. Dalam balutan putih merah kita tertawa. Tanpa berjarak tanpa berprasangka.

Kau tahu dalam balutan putih merah itu kau...

Ah sudahlah, itu terlampau lama

0 comments:

Post a Comment