Pages

Wednesday, June 3, 2015

Sebuket Bunga

Sebuah buket bunga kau berikan padaku. Dibungkus sedemikian rupa dibalut pita merah. Kau yang pertama memberikan padaku sebelum orang lain sempat datang padaku. Kau berkata, "aku sengaja mencari buket yang besar untukmu" katamu riang. Kita ini apa? Dalam kebimbangan lagi-lagi aku tak dapat menjawab. Kau hebat, kau selalu berhasil memutar balik cerita yang sudah lama dipendam. Rasanya aku akan mengingat hal ini, bunga darimu yang terindah dan.yang pertama yang kau beri untukku. Bagaimana mungkin aku bisa lupa pada senyum mu saat memberikannya padaku.

Ah, entah lah. Bunga itu mungkin tanda persahabatanmu untukku.

Sunday, April 12, 2015

Tak Berjawab

Jalan itu mengantarkanku pada apa yang tidak ku ketahui. Tangan panjangmu menarikku pada sisi jalan melindungiku dari mobil lalu lalang. Tanpa tahu apa-apa tanpa berprasangka kita berjalan pada jalan panjang itu. Kau yang pada saat itu tak ku ketahui apa. Tetiba kau menarik tanganku pada tanganmu. Hangat. Sepersekian detik waktu berhenti. Berusaha meluruskan pikiran yang menjadi baur. Langit sore itu mendung. Diiringi hujan yang turun deras setelahnya. Kau masih tertawa. Lagi tanganmu meraih tanganku. Aku bimbang. Pada tiap detik waktu yang berhenti aku kembali bertanya. Meragu dan bimbang. Bolehkah. Pada setiap waktu aku kembali ke garis start yang tak pernah ku coba untuk dilewati. Garis tak berujung karena tak pernah ku mulai. Haruskah ku mulai? Kini itu menjadi pertanyaan. Tak terjawab. Tak terungkap. Ada kabut di kepala ini yang harus disingkirkan segera. Ada sesuatu yang mendesak, bergemuruh cepat sama seperti awan mendung hari itu. Lagi-lagi apakah kaki ini harus melangkah? Ini adalah pertanyaan berulang. Tak berjawab. 

Thursday, March 5, 2015

Pagi Hari Jam 9

Hari itu jam 9 aku melihatmu, seraya berdiri kau menawarkan kursi untum seorang wanita lansia. Rupamu yang berantakan dan gayamu yang selengean tapi sikap mu yang sopan kembuatku terpana.

Hari itu jam 9 aku kembali melihatmu dalam bis yang mengantarkan kita ke tempat tujuan yang berbeda. Kau lagi-lagi tengah berdiri, tapi kali ini penampilanmu lebih rapih. Aku kembali terpana.

Hari itu jam 9 aku kembali melihatmu di tengah bus yang penuh kau berdiri di sebelahku. Berusaha mengabaikanmu dengan berpura melihat pemandangan di luar jendela.

Hari itu jam 9 aku mencari sosokmu. Aku bangun terlambat, kau tak ada di bis yang ku naiki. Tapi ketika bis melaju aku melihatmu tengah duduk di halte tempat kau menunggu shuttle bus yang mengantarmu ke tempat kerja. Aku tersenyum.

Hari itu jam 9 bis yang kutunggu muncul. Kau duduk di depan aku melihatmu saat bis hendak berhenti. Mungkin ini perasaan ku saja tapi kau melihatku. Aku pun begitu. Detik itu nafasku serasa tertahan. Dengan sekuat tenaga aku menahan raut wajahku agar tak tersenyum.

Hari itu jam 9 aku bertemu dengan seorang teman lama di bis itu. Kami terus mengobrol hingga akhirnya ada penumpang yang turun. Kami duduk di kursi itu. Dan kau ada di sana. Ku duduk di sebelahmu berusaha mengacuhkanmu. Tapi detak jantungku tetap tak tertahan.

Hari itu jam 9 mungkin aku akan bertemu dengannya lagi.