Pages

Tuesday, November 29, 2016

Kemudian

Lalu pada akhirnya kita akan merasa terasing. Tanpa mengetahui kenapa dan mengapa. Tapi bukankah kita memang terlahir seorang diri?

Lalu apa salahnya terasing

Sunday, January 24, 2016

Pada Dia yang Kuharap di Masa Depan

Kau datang tanpa terduga tanpa diminta. Tetiba kau menyapaku di dunia maya. Aku tak pernah tau siapa kau. Yang ku tahu kau hanya salah seorang sosok yang ada di antara mereka. Tak ada sesuatu darimu yang membuatku tertarik.

Kau yang kritis selalu penuh tanya. Sementara aku tak peduli. Ketika kelas, aku hanya berharap kelas segera usai. Tak lebih. Tapi ia bertanya banyak menghabiskan waktu. Tak jarang aku melengos. Bosan.

Tapi akhir tahun itu kau datang. Aku tak pernah menduga semua perbincangan kita kala itu akan berakhir lebih dari sekedar teman. Kukira kau akan menjadi sahabat yang akan menemani hingga aku keluar dari tempat ini. Ternyata tidak, kau melebihi segalanya. Kau berbeda.

Aku benci sikapmu. Yang kekanak-kanakan dan cemburu. Aku benci perokok, peminum, terlebih mereka yang tak solat. Iman ku lemah, aku butuh seseorang yang menguatkan. Kau selalu merajuk jika tak kuperhatikan. Aku khawatir, aku tak bisa memenuhinya karena sikapku yang cuek.

Hampir berhari hari aku merenung. Berkata tak boleh jatuh hati. Tapi gagal. Selalu gagal. Ketika kita bertengkar. Aku kembali ingin merentang jarak. Tapi lagi-lagi usaha itu sia-sia. Aku kembali jatuh hati. Jatuh hati pada seseorang yang seharusnya menjadi sahabat.

Perjalan kita, sikapmu, perbincangan kita soal bintang. Aku tau kau tak paham tapi kau selalu duduk mendengarkan. Aku diam diam menatapmu dalam kegelapan malam. Rasanya enggan bernjak ke dalam tenda.

Aku selalu mengacaukanmu. Membuatmu marah dengan sikap cuekku. Membuyarkan konsentrasimu dengan tingkahku. Membuatmu cemburu dengan teman teman laki laki ku yang banyak. Bahkan meski aku membuatmu kesepian kau enggan pergi.

Hingga akhirnya kau menyatakan perasaan mu padaku. Aku bingung sepersekian detik. Aku harus jawab iya atau tidak. Aku bingung. Kau bukan tipeku. Tapi padamulah hati ini enggan beranjak.

Sejak hari itu kita berbeda. Dalam status yang disebut anak muda jadian kita pun mulai menjalani hari sebagai pasangan anti mainstream. Kita selalu bertengkar. Kemudian memaafkan. Lalu bertengkar lagi dan begitu berulang. Tapi kau tak pernah menjauh. Justru sebaliknya.

Ciuman pertama kita terasa singkat. Karena kemudian kita mulai lupa akan segala. Sejak saat itu seperti candu bibirmu selalu bertautan kala kita bertemu.

Kau selalu berkata mendukungku untuk kuliah. Bersiap ldr tapi kemudian air mukamu berubah. Aku tau kau khawatir jika kita jauh nanti akan seperti apa kita kedepannya bukan? Ahh, aku minta kau tak khawatir. Seandainya kita ditakdirkan Tuhan aku yakin kita akan tetap bersama.

Kau selalu memaksaku ke dokter ketika sakit. Hingga akhirnya aku jatuh sakit. Kau menungguku hingga jam dua pagi di bengkel. Kau tau betapa khawatirnya aku saat itu? Di tengah hujan dan angin malam kau tertidur di pinggir jalan. Menantiku keluar untuk pergi ke dokter. Padahal aku tertidur ketika kau mrnghubungiku sekitar pukul sebelas. Aku enggan ke dokter lalu kemudian terlelap. Aku kaget ketika bangun jam dua mendapati pesanmu yg berkata menanti di bengkel sekitar tiga jam lalu. Dan kudapati kau masih di sana. Apa yang kau pikirkan.

Bahkan ketika aku dirawat pun kau ada di sana. Menemaniku. Kau bahkan rela mencari susu kambing untukku. Meski lokasinya jauh. Kau berkata akan menghentikan rokok unthkku. Ahh. Aku tak tahu lagi harus apa. Bahkan kata tak lagi cukup menggambarkan semuanya.

Seandainya kita berjodoh, dan seandainya kau menjadi suamiku kelak akan ku titipkan semuanya. Kelak pada saat itu akan kuserahkan diri dan hati. Semoga kau bisa menjadi imam ku di masa depan.

Sunday, January 3, 2016

Kelam

Cerita ini mengalir di jalan jalan jakarta. Merengkuh kesepianku yang menjadi jadi. Rindu pada dirimu yang kian hilang. Tak ada satu pun yang mampu meredakan pencarian ini. Tak ada satu pun kompas yang menuju padamu. Alat navigasi ku menunjukkan arah yang nihik. Mungkin kau memang ilusi. Ilusi yang memabukkanku. menghilangkan batas nyata dan tiada.

Ah, di jalan jalan jakarta ini hari semakin gelap. Hanya lampu jalanan dan lampu gedung menghiasi kelamnya hati. Di sini rindu ini makin menyayat. Padamu yang kusandarkan, entah kapan ini akan berakhir