Pages
GREEN goes to the WOOD
Sunday, December 21, 2014
Fiksi
Friday, December 19, 2014
Mungkin
Mungkin sebaiknya ini kuceritakan padamu. Apa kau tahu apa yang terjadi pada hari itu. Ketika hujan turun deras di awal bulan Februari. Panas terik yang terus menerus menarik uap air selama akhir januari. Mengapa januari ini begitu panas. Padahal ini adalah awal tahun yang kupikir hujan akan turun seperti biasanya.
Seminggu, dua minggu hujan seolah kalah bersanding dengan matahari. Sementara matahari.terus menarik air dari bumi untuk ia salurkan entah kemana yang jelas bukan pada ku. Dan di tengah terik awal februari itu hujan turun. Turun dengan derasnya. Tapi ia bungkam.
Aku tak yakin dari mana ia berasal. Aku bahkan tak tahu apakah ia telah menempuh perjalanan yang panjang. Yang aku tahu, ia tak berasal dari tempat ini. Sesosok aneh yang muncul entah dari mana. Hujan deras itu datang tanpa bisa dicegah tanpa bisa ditanya. Mengatakan padaku bahwa ialah yang kucari. Hujan itu terus turun entah apa yang ia inginkan.
Sejenak ragu, aku mulai berlari menuju hujan. Memainkan air yang turun seolah bocah kecil.
Sesuatu yang kurindu.
Tapi apa aku pun tak tahu. Hujan itu membisikkan sesuatu lagi.
Akulah yang kau rindu.
Gemericik hujan menyampaikan pesannya padaku. Gemericik hujan itu merambat pada sela sela dedaunan yang akhirnya menetekan hujan itu karena terlampau berat.
Aku bahkan tak tahu siapa 'aku' yang kurindu.
Tak sempat berpikir hujan pun berhenti. Meninggalkan genangan genangan pada tanah dan aspal yang basah. Menyisakan butiran pada dedaunan dan atap bangunan.
Sebuah renungan tersisa akan siapa yang kurindu pada hujan di awal februari.
Ia yang tak kuketahui. Yang datang bersama hujan yang berkelebat cepat. Dia kah yang kucari. Atau hujan ini membuatku gila. Enatahlah.
Mungkin dia atau bukan dia
Monday, December 15, 2014
Penghubung
Hari itu tak seperti biasa. Hari itu kau memandangi hujan seolah kau membencinya. Hujan yang dulu kau sukai.
Kau berkata bahwa hujan mempertemukan kita sebagaimana ia mempertemukan langit dan bumi. Kau berkata kau menyukai hujan karena ia mengijinkan ku bertemu denganmu.
Hari itu hujan. Kau terdiam di sudut ruangan. Suara gemuruh hujan berlomba-lomba mengisi keheningan yang ada. Tak ada sepatah kata pun yang tercipta antara kau dan aku. Hanya hujan.
Pikiran kita berkelana. Ke arah mana aku pun tak tahu. Menyimpan kata dalam benak. Kau dan hujan hari itu adalah cerita terakhir yang ada.
Suara derit pintu itu menggema kala kakimu melangkah pergi. Dari sudut mataku kau perlahan hilang dalam balutan hujan.
Rupanya hujan bukanlah penghubung kita. Kita berbeda.
Sunday, December 14, 2014
Putih Merah
Satu, dua, tiga ....
berapa tahun aku melewati hidup bersama mu? Aku mulai bias.
Kenangan tentang mu terlalu banyak.
Aku mempertanyakan apakah ini nyata atau sebuah imaji belaka yang ingin kupertahankan agar aku tak merasa sendiri?
Aku tak tahu.
Perlahan semua kenangan tentangmu mulai terhapus. Ingin kuraih lagi semua kenangan itu. Menatanya dalam barisan ingatan terdepan agar kau menjadi yang pertama saat aku terbangun atau menjadi yang terakhir saat mata terpejam. Ada rasa berontak yang berkata untuk tidak menghapus semua itu.
Lalu aku pun mencarinya kembali. Berusaha mencari dirimu yang paling jelas dalam benakku. Tapi semakin kucari semakin kabur bayanganmu dan aku semakin merasa sendiri. Bayanganmu adalah semangat hidupku yang mampu mendorongku dari kegelapan sekalipun. Anehnya semua itu terasa tak nyata.
Bayanganmu kini hanya menjelma dalam sebuah foto. Satu-satunya foto dirimu yang kupunya. Foto ketika rasa itu belum tumbuh. Foto ketika antara kau dan aku tak berjarak. Kau dalam balutan putih merah. Tapi kau tahu, walaupun semua tentangmu mulai bias. Hanya foto itu yang terasa nyata. Bahwa kau pernah hadir dalam hidupku.
Putih merah yang kau pakai dan keluguan kita saat itu. Itulah satu-satunya yang nyata. Kenangan tak terbatas tentangmu ada pada putih merah yang kau kenakan. Dalam balutan putih merah kita tertawa. Tanpa berjarak tanpa berprasangka.
Kau tahu dalam balutan putih merah itu kau...
Ah sudahlah, itu terlampau lama
Friday, October 3, 2014
Pencar
Kenyataannya kita memang tidak pernah bertemu. Jalan kita benar benar berbeda. Seperti rel kereta yang hanya berdampingan tapi pada suatu titik kita akan berpencar. Walaupun ada perasaan terima kasih karena kau bahagia dalam hidupmu sekarang. Di dalam hati ada sedikit rasa sedih terselip karena meskipun banyak foto tentangmu, foto dirimu yang tengah tertawa nyatanya aku tak pernah ada di sana. Tak pernah ada bahkan untuk menjadi alasan di balik tawamu. Apa yang aku tunggu, aku memang tak tahu. Menyukaimu adalah hal lain yang aku pikirkan. Bukan berarti aku membencimu atau berharap kau tidak bahagia. Entahlah apa yang aku mau saat ini. Mungkin aku memang masih menyimpan rasa padamu. Sampai kapan? Aku pun tak tahu. Hanya saja untuk saat ini mungkin masih.
Tuesday, September 23, 2014
Aku kamu kita
Saya masih mengingatmu dalam ingatan yang menjalar bagai akar yang tertancap tajam.
Saya bukannya masih berharap atau meminta lebih dari yang ada. Karena berharap padamu itu meniadakan apa yang ada saat ini.
Kamu, dan jarak yang terbentang. Segala hal yang memang tidak akan terjadi. Seperti menunggu angin berhembus di katulistiwa. Kamu adalah sosok yang begitu jauh.
Semua sadar yang ada tetap tak bisa membendung rasa rindu yang terbesit. Kamu kamu dan kamu hadir dalam mimpi. Mimpi, sesuatu yang hilang ketika kau terjaga.
Apa saya masih berharap? Entahlah kadang saya rindu dengan obrolan yang kita lakukan dahulu. Ringan, tapi aku tahu kau di sana, tapi lamat aku sadar kau jauh.
Aku kamu adalah cerita yang tak pernah ada. Tak pernah terkatakan. Bahkan mungkin tak menjejakkan kenangan.