Mungkin sebaiknya ini kuceritakan padamu. Apa kau tahu apa yang terjadi pada hari itu. Ketika hujan turun deras di awal bulan Februari. Panas terik yang terus menerus menarik uap air selama akhir januari. Mengapa januari ini begitu panas. Padahal ini adalah awal tahun yang kupikir hujan akan turun seperti biasanya.
Seminggu, dua minggu hujan seolah kalah bersanding dengan matahari. Sementara matahari.terus menarik air dari bumi untuk ia salurkan entah kemana yang jelas bukan pada ku. Dan di tengah terik awal februari itu hujan turun. Turun dengan derasnya. Tapi ia bungkam.
Aku tak yakin dari mana ia berasal. Aku bahkan tak tahu apakah ia telah menempuh perjalanan yang panjang. Yang aku tahu, ia tak berasal dari tempat ini. Sesosok aneh yang muncul entah dari mana. Hujan deras itu datang tanpa bisa dicegah tanpa bisa ditanya. Mengatakan padaku bahwa ialah yang kucari. Hujan itu terus turun entah apa yang ia inginkan.
Sejenak ragu, aku mulai berlari menuju hujan. Memainkan air yang turun seolah bocah kecil.
Sesuatu yang kurindu.
Tapi apa aku pun tak tahu. Hujan itu membisikkan sesuatu lagi.
Akulah yang kau rindu.
Gemericik hujan menyampaikan pesannya padaku. Gemericik hujan itu merambat pada sela sela dedaunan yang akhirnya menetekan hujan itu karena terlampau berat.
Aku bahkan tak tahu siapa 'aku' yang kurindu.
Tak sempat berpikir hujan pun berhenti. Meninggalkan genangan genangan pada tanah dan aspal yang basah. Menyisakan butiran pada dedaunan dan atap bangunan.
Sebuah renungan tersisa akan siapa yang kurindu pada hujan di awal februari.
Ia yang tak kuketahui. Yang datang bersama hujan yang berkelebat cepat. Dia kah yang kucari. Atau hujan ini membuatku gila. Enatahlah.
Mungkin dia atau bukan dia
0 comments:
Post a Comment