Pages

Wednesday, December 26, 2012

Temaram

Sepertinya ada sisa cahaya yang menelusupi celah teralis. Dua sinar yang datang pada waktu yang berbeda. 

Temaram sinar senja yang beranjak malam. Merengkuh nanar yang menjelma malam. 
Dan fajar yang menyeruak, dalam balutan embun pagi. Menyambut mentari yang kian tinggi. 

Kini celah itu kian nyata. Dunia kita berbeda sekarang. 

Dan kau menutup lembaranmu pada senja yang datang seperti biasanya. Memulainya lagi pada keesokan harinya saat fajar datang dengan kisahmu yang baru. 

Bagiku senja ini tak berbeda. Malam kembali datang bersama kisahnya. Hanya sekelumit kisah yang tak bisa dimulai dan tak bisa pula diakhiri. 

Bagaimana ini bisa menjelma rindu ketika kita bahkan tak pernah saling bertautan. Saling berselisih jalan pada ujung waktu. Kau menjelma pagi, dan aku menjelma malam. 

Kau adalah temaram. Temaram yang datang saat senja ketika sinar mentari berbias dalam imaji.

Friday, November 2, 2012

Absurd

Absurd banget perasaan gw akhir - akhir ini. mungkin ada sedikit perasaan di hati yang masih belum bisa lepas. Ya masih ada untuk dia, bintang. Buat gw dia orion gw. Penanda musim hujan. Dia adalah kisah yang belum sempat gw ungkapkan. dan semua rindu ini menyesak dan berjibaku dengan ego gw. ego gw sebagai sahabat buat dia. satu hal yang gw tau, gw harus bisa maju tanpa dia. tapi yang sampe sekarang gak bisa gw ngerti adalah, gw udah gak bisa lagi bersifat biasa ke dia. Mau komen, mau sms rasanya jadi ada jarak. dan itu yang bikin gw makin sepi. dan itu yang bikin gw malah terus berharap dia ada di sini. tapi dia sahabat gw. jadi mungkin memang begini jalannya. Everything happens for a reason, doesn't it?

Untuk seorang sahabat


Tuesday, October 30, 2012

Hujan

Hi green ranger! Hujan lagi di kota saya tercinta.

sudah lama gak bercerita, karena kondisi nyata mulai sulit di sini. Entah kenapa saya memilih untuk menyibukkan diri. Saya hanya ingin lari, lari dari segala hal yang membuat saya merasa sedih. Tapi, ya nyatanya saya kembali mengenang masa - masa bersama dia, seorang sahabat yang teramat saya sukai. Saya masih berharap walau saya tau dia sudah memiliki yang lain. Di satu sisi saya mengharapkan kebahagiaan dia, tapi di sisi lain sisi egois saya ingin dia tetap di sini bersama saya.

Saya sudah berusaha, setidaknya untuk menutup cerita dan memulai sebuah rasa baru, tapi toh nyatanya nihil. Selalu saya merasa berharap. Merasakan harapan yang tidak pasti. Dan karena itulah sekarang hati saya berjaga. Saya jadi tidak mudah percaya dan bahkan saya mulai memandang buruk segala rasa kepercayaan. Saya mulai tidak berani mempercayai sosok yang baik pada saya. Penantian itu sebentar memang, tapi cukup lama buat hati gue

Wednesday, August 8, 2012

Kau Dingin, Hujan

Aku masih ingin mencintai mu, hujan. Mengecup pelan dan membiarkannya ia turun dengan derasnya. Tapi kau dingin hujan. Berusaha kurangkul kau sebagaimana dahulu, tapi kau sulit digapai. Kau dingin. Dan kini perlahan kata suka itu menjelma benci. 

Aku masih ingin mencintai mu, hujan. Menyusuri malam - malam kota ini bersama, meresapi belaian angin yang menampar pipi kita. Tapi kau dingin hujan. Berusaha ku jalin kata, tapi kau bungkam. Kau dingin. Dan perlahan kata suka itu menjelma benci.

Aku masih ingin mencintai mu, hujan. Mengagumi sikapmu yang penakut itu, dan tawaku yang tercipta karenanya. Tapi kau dingin hujan. Berusaha ku menjahili kau sebagaimana dahulu, tapi kau acuh. Kau dingin. Dan perlahan kata suka itu menjelma benci.

Aku mulai terbiasa dengan kata benci. Yang perlahan tertanam di sudut - sudut ingatan. Menutup segala cerita penuh tawa yang dulu kau pernah suguhkan. Hingga aku lupa apa itu tawa bersamamu.

Aku masih mencintai hujan, terutama hujan di kota ini. Tapi aku benci hujan bulan Juni, yang membiarkan kata yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.


Tuesday, August 7, 2012

Bintang

Kata orang kamar adalah tempat kita mengenang segala masa lalu. Kerap kali kita berpikir tentang mengulangi masa lalu. Saya juga. Saya pernah menyukai seseorang. Bukan hal penting sebenarnya. Sama seperti kebanyakan remaja, saya juga pernah merasakan sebuah perasaan cinta, dan tentu saja cinta pertama. Kata orang cinta pertama sulit untuk dilupakan. Dan yah begitu pula saya. Meski memang perasaan saya ini tidak pernah terungkap. Cinta tak harus dikatakan bukan?

Dan cinta pertama saya adalah kepada seorang sahabat saya. Kami sudah dekat sembari kecil. Mungkin hal inilah yang membuat saya tak begitu menyadari bahwa saya sudah menyukainya. Hingga akhirnya saya sadar saat menginjakkan kaki ke sekolah menengah atas. Tapi tetap saja tak ada alasan saya untuk mengatakannya. Bagi saya dia sahabat yang penting. Jadi buat apa saya mengatakannya. Yah kau tahu, mungkin aku hanya takut kehilangan seandainya ia mengetahui nya. Banyak kemungkinan sebenarnya, tapi saya tak cukup berani mengambil kemungkinan itu sehingga perasaan itu tetap saya pendam.

Sebutlah namanya Bintang. Buat saya, ia seperti bintang, karena tanpa ia mungkin saya tidak akan menjadi saya yang seperti sekarang. Tapi yah mari kita biarkan saja soal itu. Setiap orang pasti ingin berada di sisi orang yang menerima ia apa adanya. Begitu pun saya. Ia mungkin bukan tipe saya sama sekali, tapi dia selalu ada di situ ketika saya kesulitan dan bahkan saat senang. Tapi ia sahabat saya. Saya takut untuk melangkah. Dan perasaan itu saya pendam bertahun - tahun lamanya hingga memasuki perguruan tinggi.

Walaupun pada akhirnya toh saya berhasil menemukan orang yang saya sukai. Di sela terkecil hati saya, tentu saja saya masih memiliki perasaan padanya. Dia sahabat saya. Inilah kata - kata yang selalu berhasil membuat saya menahan diri. Diam, bungkam, tertunduk. Meresapi kesunyian bintang di malam hari. 

Hingga akhirnya kau benar pergi dari hadapanku. Merangkul bulan yang gemerlap. Aku? Tentu saja aku tak bisa disandingkan dengan Bulan. Bohong kalau aku tak merasa sedih. Ya, aku terbata pada kursi - kursi kampusku. Mataku tak henti memastikan berita angin itu. Kau dan Rembulan. Kalian terlihat serasi. Melengkapi. Dan bukan aku. Lalu kenapa? Aku meyakinkan diri. Bulan lebih indah. Lebih terang. Ia lebih cocok berada di sampingmu, Bintang. Bukan aku. Kau sahabatku. Tentu saja kau harus mendapatkan segala yang terbaik, sebagai balasan atas kebaikanmu. Tapi hati ini tak mau dengar. Dan aku ternyata menangis. Aku tak mengerti. Bukankah sudah kuputuskan kau sahabatku? Lalu kenapa aku masih menangis? Aku membenci diriku. Terlebih saat itu.

Sudah berapa lama itu? Aku bahkan mulai meragukan hari dan tanggal. Semua masih terasa samar bagiku. Bintang di langit pun sudah tak terlihat jelas lagi. Anehnya, masih ada bagian - bagian yang tidak bisa aku lupa. Bahkan aku tak tahu lagi bagaimana cara membuka pintu hati ini. Entahlah aku lupa, bagaimana cara mempecayai orang belakangan ini. Entah kenapa aku tak bisa berhenti memamerkan senyum yang terasa palsu ini. Aku ingin berhenti. Hanya saja, aku tak ingin membiarkanku kembali menangis. Seperti malam itu, setidaknya. 


Tenang saja, aku sahabatmu. Aku tak akan menginjak batas lebih dari itu. Suatu saat nanti aku pasti menemukan kebahagianku seperti yang kau bilang. Tapi, kenapa hati ini masih terasa sesak?

Monday, August 6, 2012

Surat Untuk April

Kepada April,

Hei, April bagaimana kabarmu di kota pelajar sana? Entah kenapa aku ingin menulis surat untukmu. Sudah berapa lama kita tidak bercengkrama lagi? Kelihatannya setahun sudah sejak aku melihatmu untuk terakhir kalinya. Kau nampak lebih berisi saat itu. Hobi makanmu masih tak berubah ya? Atau mungkin malah semakin bertambah di sana. Hahaha. Yah, baguslah setidaknya aku jadi yakin kau sehat - sehat saja di sana.

Pertama, mungkin aku ingin meminta maaf. Maaf aku tak sempat mengirimu pesan selamat ulang tahun di hari ulang tahunmu. Padahal di hari itu pada kau akhirnya menginjak kepala dua. Jujur aku bingung. April, kau sahabatku, tidak bahkan lebih kau keluarga kedua ku. Bagaimana mungkin pada hari sepenting itu aku hanya mengucapkan sepatah kata? Seandainya bisa, aku ingin mengucapkannya langsung di hadapanmu. Aku ingin memberikan tamparan sebanyak umurmu sebagaimana yang biasa kita lakukan dulu saat masa SMA. Yah, tapi kelihatannya itu sulit sekali. Aku tahu kau sibuk sekali di sana. Jurusanmu memang tidak ringan. Aku tahu itu. Tapi karena kau adalah April yang aku kenal, aku yakin kau pasti bisa melampauinya. 

Hei, April. Kau tahu? Sudah banyak yang terjadi semenjak keergianmu. Ketika  kau sudah tidak berada di bumi pakuan ini. Hujan di sini sudah tak sebanyak dulu. Entah kenapa cuaca menjadi begitu panas. Aku sampai gagal melakukan operasi pemutihan karenanya. Haha. Yah tapi di kotamu pasti lebih panas kan? Pasti kau lebih hitam dariku. Hahaha. Bagaimana? Apa akhirnya kau berhasil menjadi wanita yang feminim? Kalau aku, jelas gagal total. Huahahaha. Terlalu sulit bagiku pril.


Eh iya, aku baru saja melakukan perjalanan yang jauuuuuuuhhhh sekali pril. Aku baru melakukan tugas lapang. Ini sangat menyenangkan. Suatu hari nanti aku akan mengajakmu ke tempat aku itu. Tempat itu sangat seru sekali pril. Nanti kita melakukan kegilaan lagi di sana. Haha. Kau tau tidak? Aku di kerjai di sana. Aku di jodoh - jodohin sama temanku. Parah sekali mereka. Susahnya hidup sebagai single. Kemana - mana dikerjai terus. Aku jadi ingat, bagaimana hubunganmu dengan pacarmu? Kau belum pernah cerita soal dia kepadaku. Ceritalaaaaahh Pril. Hahaha. Yah apapun itu semoga dia memang orang yang tepat untukmu. Langgeng yaa :D

Kau masih ingat keluarga kedua kita pastinya. Banyak yang berubah juga dari mereka.

Kau masih ingat si heboh Febri? Dengan kumisnya yang terbukti berhasil memikat wanita itu? Haha. Sekarang dia jadi lebih kalem dan kabar baiknya dia berhenti merokok. Dia masih jail, tapi Febri sekarang (entah kenapa) jadi lebih dewasa. Dan kejutannya adalah dia (tiba - tiba) jadi pinter. Hebat banget. Teman kita yang analog itu sekarang sudah berevolusi menjadi manusia digital, kau pasti akan kaget melihatnya? Dia cinta pertama mu diantara yang lain di keluarga kita kan? Haha. Aku jadi ingat pengakuan mu padanya. Lucu sekali, semua jadi spechless saat itu. Kau memang tak terduga. Hahahaha.

Kau ingat Ari? Ari juga sulit sekali di kontak, sama saja sepertimu. Aku juga jarang melihatnya di kota ini lagi. Yang aku tahu dia menjadi semakin gaul di sana. Haha. Yah, ari memang ari. Ingat dulu dia hobi sekali clubing, dan kita cuma bisa geleng - geleng kepala. Ah dan kau yang mengira XI adalah XXI. Antara tempat clubing dan bioskop itu jauhhhh sekali pril. Kau bahkan berimajinasi membawa tenda ke sana karena kamu mengira itu bioskop, dan kau heboh sendiri setelah akhirnya tahu bahwa kau salah menanggapinya. Hahaha.

Dan Aril, akhirnya dia kembali menjejakkan kakinya di kampus kuning di jurusan yang sama dengan saat kita memulai bangku perkuliahan kita. Ya, setelah sempat keluar  dari sana ia memang mendaftar ke sebuah universitas swasta, tapi kemarin ia mendaftar kembali dan kembali (lagi) diterima. Ia akan memulai perkuliahannya sebentar lagi. Kau tau, dari dulu dia memang tak bisa dibaca jalan pikirannya. Ingat kita pernah bertengkar hebat dengannya karena sifatnya itu? Aku ingat kau marah sekali padanya. Anehnya, kalau diingat itu menjadi lucu sekali saat ini. Hehe.

Dan sahabatmu si Mei. Aku ingat dulu kau bertengkar hebat dengannya. Sekarang sudah baikan kan? Mei yang sekarang jauh lebih dewasa daripada Mei yang dulu. Ia juga sudah tidak se- moody saat kita SMA dulu. Pokoknya dia jadi keren sekali sekarang. Sifatnya sudah berubah. Dia sudah mulai bisa mengendalikan emosi nya. Kau harus bertemu dengannya suatu waktu. Jujur saja, aku jadi kagum pada perubahannya yang satu itu. Yah, walaupun begitu tak ada yang berubah dengan penampilannya. Dia tetap si selengean Mei. Hahaha. Dan sama seperti gw, nampaknya musim semi pun masih belum datang pada Mei. Sebuah tanda tanya besar bukan? Aku jadi penasaran seperti apa laki - laki yang nanti akan membuat Mei terpikat. Hahaha.

Julli, juga sama saja seperti Ari. Salah satu yang hampir menghilang, tapi ia masih sering bertukar pesan singkat denganku. Kelihatannya urusan asmara nya cukup baik. Haha. Dan kau tau ia kursus menjahit wow banget. Bagaimana denganmu? Jangan mau kalah pril. Hahaha.

Lalu keluarga kita yang seangkatan dibawah kita si Ijul. Kau tahu? Akhirnya ia diterima PTN. Tepatnya di PTN yang sama denganku sayang beda jurusan dan departemen. Ia sekarang maniak masak. Setiap naik gunung ia akan membawa set alat memasknya. Hahaha. Dia benar - benar konyol. Dan dia masih songong seperti dahulu. Aku ingat kita pernah bertengkar dengannya gara - gara ini.


Septi, ia masih sama. Bahkan terlihat lebih modis. Maklum bandung. Ia masih sepeerti dulu. Tak berpikir panjang maksudku. Kau ingat kita pernah marah dengannya gara - gara ini. Dan kita sampai menyidangnya. Apa boleh buat bukan? Ia memang selalu nekat. Dan terakhir aku mendengar cerita ia kesasar di gunung lawu, karena kebiasaannya memisahkan diri itu. Well, kita pernah dimarahi soal ini sama senior bukan?

Lalu Ember. Dia si kurus dengan gaya jalan ngajakin perang. Dulu kau pernah suka dengannya kan? Hahaha. Sekarang ia pacaran dengan teman baikku di kelas. WOW. Dunia ini memang sempit. Siapa sangka. Padahal temanku itu dulu se asrama denganku. Dan di kelas kami dekat. Dan tau - tau dia jadian dengan ember. Dunia memang penuh dengan hal yang tak terduga ya kawan.


Tambah satu lagi, kau ingat tidak Desi? Teman kita yang paling tomboy itu, yang bahkan kewanitaannya diragukan. Dia baru saja menamatkan semeru nya. Dan hebat sekali. Gw turut bangga dan terharu tentunya. Kau tahu ia menyatakan perasaannya pada Ijul. Gw liat dan syok. Gak juga sih. Kami sengaja melakukannya. Kau tahu? Penantian 5 tahun itu memang tidak mudah. Jadi sebaiknya dikatakan bukan?


Kelihatannya surat ini sudah begitu panjang. April aku sudahi dulu ya. Aku rindu bermain denganmu. Tapi tidak sekarang pun tidak apa - apa. Suatu hari nanti kita pasti akan menjadi orang - orang sukses yang mampu memberikan manfaatk bagi orang di sekeliling kita. Dan saat itu kita harus bertemu. Bukan sebagai bocah yang tidak bisa apa - apa, tapi sebagai manusia yang bermanfaat bagi sesama. Dan jika waktu itu tiba, aku harap kita bisa duduk - duduk menatap senja pada halte TP VIP lagi. Sembari menceritakan segala pengalaman hidup.

Sehat - sehat pril. Aku selalu mendoakanmu :D

Hujan


Hujan, dan betapa aku menyukainya, tapi kata itu tak dapat kuucapkan dengan lantang. Aku terlalu takut, ya aku pengecut. Aku tahu dan cukup paham.

Kau tahu? Betapa aku merindumu? Menunggu pesan - pesan singkat darimu sebagaimana pertemuan pertama kita dahulu. Tapi mungkin itu hanya harapan.

Tak ada yang ku lupa. Bahkan pada setiap jalan - jalan yang telah kita susuri bersama. Kau ingat hujan? Pada agustus? Pada malam yang menghantarkan keheningan bagi kita. Kau, dan Aku. Hanya kita. Pada jalan - jalan di kota itu. Pada angin bulan itu. Kukira itu mimpi. Hingga ketika aku bertemu kembali keesokan harinya aku sadar ini nyata. Ketika itu aku bahkan tak mampu berbicara wajar padamu. Aku gugup. Aku terlalu bahagia. Aku harap malam itu tak pernah berakhir.

Tapi seperti hujan yang akan berakhir. Aku bertanya apakah ini juga akan berakhir? Sudah berapa lama itu sejak terakhir kalinya kita menyambung kata. Dan kau begitu dingin. Tak taukah kau bahwa hujan lah yang ku rindu? Kau pasti tak tahu. Kau sedingin hujan di bulan desember. Padahal kau Juni! Yang benar saja. Dan kau terasa begitu jauh.

Hujan, aku merindumu. Kau tahu. Tapi kata ini tak bisa keluar sebagaimana mestinya. Entahlah aku kehilangan segala keberanian ku. Bahkan untuk sekedar menyapamu melalui pesan singkat sebagaimana biasanya.

Biar kupikirkan dahulu. Aku takut ini mulai memudar.

Hujan. Aku masih menunggu kejujuranmu.


Seperti hujan kau datang di saat tak terduga. Deras. Membuat kuyup semua yang menyentuhmu. Dan ketika aku mulai mengharapkanmu. Datang pun kau tidak. Bahkan walau hanya setetes gerimis.

Tuesday, July 31, 2012

Semesta Menyambut!

Siang semua :D

Postingan pertama ini mungkin terlihat sekedar sebuah spam saja. Sebelum benar - benar mulai menulis, pertama - tama izinkanlah saya menyapa. Bukankah lebih baik saya menyapa dunia blog dulu. Anggap saja sebagai sebuah salam memasuki sebuah dunia baru.

Kali ini sebuah catatan hijau dari saya. Kenapa harus hijau? Karena gw percaya hijau menandakan sebuah kebahagiaan. Dan tulisan di blog ini semoga saja juga berupa kebahagiaan. Baik yang tak tampak maupun yang tampak.

Well, happy reading