Hari itu jam 9 aku melihatmu, seraya berdiri kau menawarkan kursi untum seorang wanita lansia. Rupamu yang berantakan dan gayamu yang selengean tapi sikap mu yang sopan kembuatku terpana.
Hari itu jam 9 aku kembali melihatmu dalam bis yang mengantarkan kita ke tempat tujuan yang berbeda. Kau lagi-lagi tengah berdiri, tapi kali ini penampilanmu lebih rapih. Aku kembali terpana.
Hari itu jam 9 aku kembali melihatmu di tengah bus yang penuh kau berdiri di sebelahku. Berusaha mengabaikanmu dengan berpura melihat pemandangan di luar jendela.
Hari itu jam 9 aku mencari sosokmu. Aku bangun terlambat, kau tak ada di bis yang ku naiki. Tapi ketika bis melaju aku melihatmu tengah duduk di halte tempat kau menunggu shuttle bus yang mengantarmu ke tempat kerja. Aku tersenyum.
Hari itu jam 9 bis yang kutunggu muncul. Kau duduk di depan aku melihatmu saat bis hendak berhenti. Mungkin ini perasaan ku saja tapi kau melihatku. Aku pun begitu. Detik itu nafasku serasa tertahan. Dengan sekuat tenaga aku menahan raut wajahku agar tak tersenyum.
Hari itu jam 9 aku bertemu dengan seorang teman lama di bis itu. Kami terus mengobrol hingga akhirnya ada penumpang yang turun. Kami duduk di kursi itu. Dan kau ada di sana. Ku duduk di sebelahmu berusaha mengacuhkanmu. Tapi detak jantungku tetap tak tertahan.
Hari itu jam 9 mungkin aku akan bertemu dengannya lagi.
0 comments:
Post a Comment