Pages

Monday, August 6, 2012

Hujan


Hujan, dan betapa aku menyukainya, tapi kata itu tak dapat kuucapkan dengan lantang. Aku terlalu takut, ya aku pengecut. Aku tahu dan cukup paham.

Kau tahu? Betapa aku merindumu? Menunggu pesan - pesan singkat darimu sebagaimana pertemuan pertama kita dahulu. Tapi mungkin itu hanya harapan.

Tak ada yang ku lupa. Bahkan pada setiap jalan - jalan yang telah kita susuri bersama. Kau ingat hujan? Pada agustus? Pada malam yang menghantarkan keheningan bagi kita. Kau, dan Aku. Hanya kita. Pada jalan - jalan di kota itu. Pada angin bulan itu. Kukira itu mimpi. Hingga ketika aku bertemu kembali keesokan harinya aku sadar ini nyata. Ketika itu aku bahkan tak mampu berbicara wajar padamu. Aku gugup. Aku terlalu bahagia. Aku harap malam itu tak pernah berakhir.

Tapi seperti hujan yang akan berakhir. Aku bertanya apakah ini juga akan berakhir? Sudah berapa lama itu sejak terakhir kalinya kita menyambung kata. Dan kau begitu dingin. Tak taukah kau bahwa hujan lah yang ku rindu? Kau pasti tak tahu. Kau sedingin hujan di bulan desember. Padahal kau Juni! Yang benar saja. Dan kau terasa begitu jauh.

Hujan, aku merindumu. Kau tahu. Tapi kata ini tak bisa keluar sebagaimana mestinya. Entahlah aku kehilangan segala keberanian ku. Bahkan untuk sekedar menyapamu melalui pesan singkat sebagaimana biasanya.

Biar kupikirkan dahulu. Aku takut ini mulai memudar.

Hujan. Aku masih menunggu kejujuranmu.


Seperti hujan kau datang di saat tak terduga. Deras. Membuat kuyup semua yang menyentuhmu. Dan ketika aku mulai mengharapkanmu. Datang pun kau tidak. Bahkan walau hanya setetes gerimis.

0 comments:

Post a Comment