Pages

Wednesday, December 26, 2012

Temaram

Sepertinya ada sisa cahaya yang menelusupi celah teralis. Dua sinar yang datang pada waktu yang berbeda. 

Temaram sinar senja yang beranjak malam. Merengkuh nanar yang menjelma malam. 
Dan fajar yang menyeruak, dalam balutan embun pagi. Menyambut mentari yang kian tinggi. 

Kini celah itu kian nyata. Dunia kita berbeda sekarang. 

Dan kau menutup lembaranmu pada senja yang datang seperti biasanya. Memulainya lagi pada keesokan harinya saat fajar datang dengan kisahmu yang baru. 

Bagiku senja ini tak berbeda. Malam kembali datang bersama kisahnya. Hanya sekelumit kisah yang tak bisa dimulai dan tak bisa pula diakhiri. 

Bagaimana ini bisa menjelma rindu ketika kita bahkan tak pernah saling bertautan. Saling berselisih jalan pada ujung waktu. Kau menjelma pagi, dan aku menjelma malam. 

Kau adalah temaram. Temaram yang datang saat senja ketika sinar mentari berbias dalam imaji.


Fiersa Besari - Temaram

Rindu ini menggema, sampai di ujung luka
Kau yang bertabur sinar, hanya membias dalam imaji

Engkau pencuri hati tanpa pernah sadari
Aku dipeluk nanar tiada bergeming usah peduli

Aku sadar siapa diriku yang tidak mungkin menggapaimu
Kau terlalu indah untuk jadi kenyataan
Namun bila ada sedikit ruang hati untuk kusinggahi
Takkan pernah kusakiti

Ringkih asa terbuai, dunia kita berbeda
Takkan aku berharap, dan takan juga aku berpaling

Aku sadar siapa diriku yang tidak mungkin menggapaimu
Kau terlalu indah untuk jadi kenyataan
Namun bila ada sedikit ruang hati untuk kusinggahi
Takkan pernah kusakiti

Tetaplah bersinar di langit milikku
Terangi temaram meski tak berbalas
Tetaplah bersinar meski tak berbalas

0 comments:

Post a Comment