Pages

Monday, October 7, 2013

Datang

Kau yang seperti hujan, kau datang pada tanah. Membasahinya dengan tiap tetesan air hingga jenuh. Hingga tak ada lagi ruang bagi tanah untuk menampungmu, tanpa mampu menolak terus menampung hingga hujan reda. Lalu kemudian kau akan pergi, bersama musim kemarau. Membuat tanah rindu akan hujan dan menanti musim penghujan kembali datang tanpa mampu terucapkan(MNH, 2013)

Mungkin terkadang aku selalu merasa hidup ini seperti limbung. Berusaha maju tapi di sisi lain aku merasa tertarik mundur lagi. Dan pada hujan seperti ini kenapa ya semua memori terasa tertarik mundur. Tadi pagi aku kembali berpapasan lagi dengannya. Seperti biasa kita hanya bertukar beberapa patah kata untuk kemudian aku kembali meghilang. Mungkin kau akan mengaggap aku cuek, tapi tak tahukah kau seberapa besarnya keinginanku untuk menanggapi balasan yang kau lontarkan? Hanya saja aku tak cukup berani untuk melakukannya. Aku terlalu takut seandainya kau akan kembali menjauh dan aku terlalu takut jikalau aku kembali berharap. 

Ada banyak hal penyesalan yang aku rasakan terhadapmu. Sekarang kita berjarak tak seperti dahulu lagi. Tak tahukah kau begitu banyak kisah yang ingin aku ceritakan kepadamu? Seperti dahulu, saling berbagi kisah atau hanya sekedar basa - basi menanyakan keadaan masing - masing. Kau mungkin tak tahu, dan belum tahu ada begitu banyak perasaan yang aku sembunyikan di depanmu. Bahkan walaupun rasa itu belum terungkap kita tetap berjarak bukan? 

Lalu apa yang harus aku lakukan, kau tahu aku hanya berputar - putar seperti orang bodoh dan aku memang bodoh. Haruskah aku berteriak di depanmu dan mengakui kebodohanku. Kau, bodoh bahkan yang tidak menyadari sama sekali, atau kau sadar dan pura - pura tak tahu. Kau tahu selalu ada permainan yang dimainkan oleh reaksiku. Ada kebersamaan yang terlalu berharga untuk dihancurkan. Tapi biar itu sangat jelas, kenapa playlist lagu ku masih memutar lagu dengan lirik yang memiliki makna sama bertahun - tahun. 

Sahabat. Ada banyak postingan yang tak sampai padamu, tak sempat tertuliskan hanya membumbung dalam benak. Terlalu banyak hingga kadang rasanya sesak. tapi aku gak pernah membenci mu. Gak pernah, karena kau memang terlalu penting. Tidak ada satupun guratan cerita yang dibuat hanya untuk dikubur atau dibuang begitu saja, bukan? Ada cerita - cerita ketika rasa ini belum tumbuh hingga akhirnya menjadi sememuakkan ini. Tak ada yang bisa dibenci dari saat - saat itu. Malah semua itu menumbuhkan rindu - rindu baru. Rindu yang lagi - lagi tak akan bisa diucapkan padamu.

Kadang sepasang lelaki dan perempuan lupa bahwa mereka hanya sekedar teman tidak lebih, yang lebih hanya rasa diantara mereka. Kadang juga dalam sebuah peretemanan dua manusia saling memiliki rasa dan saling menyangkal pula bahwa itu cinta. Seperti yang aku rasakan kepadamu. Jika tidak mengapa seorang teman bisa secemburu ini. Seperti aku kepadamu. Apakah kau merasakan hal yang sama seperti aku? ---- Daraprayoga - 1000 Tahun Aku Akan Menunggu.

0 comments:

Post a Comment